Muhammad Sukran
i can live until now because love from everyone
i can live until now because love from everyone
Pertama, aku mengira hanya mulut yang sgt pandai membual, berjuta orang bisa terhasut, terfitnah, menjadi spesial di karenakan bualan si mulut. Lambat laun, ketika benih telah menjadi daun pikiran pun mulai dewasa, aku menemukan pembual baru di kehidupan dia bernama PERASAAN. Pembual ini ternyata lebih mengerikan, knp mengerikan? setiap orang pasangan muda mudi di luar sana di kemudikan untuk menuju ke aktifitas yang ingin dia buat yaitu Pacaran. Diri ini sendiripun dulu tak luput menjadi korbannya,
Sedikit sekali orang-orang yg berpacaran tidak berpegangan, ciuman, pelukan atau yang lainnya dan disitulah bagian mengerikannya yang secara tidak sadar kita mungkin pernah melakukannya.
Ah, tidak usah terlalu panjang jg aku jelaskan, kita yang sudah dewasa dan bs berpikir lebih panjang pasti sudah bs mendapat intinya dr mukaddimah td, hal ini jg sedikit membuat galau teringat kembali dosa-dosa dulu ketika berada di aktivitas tersebut, semoga Allah telah mengampuni.
Bukan menyalahkan diri sendiri juga sih? sekiranya, mungkin begitulah skenario tuhan atau hikmahnya, DIA menjerumuskan kita dulu kedalam dosa-dosa itu lalu mengangkat kita perlahan-lahan, naik lg ke permukaan sehingga kita sadar kita telah tenggelam begitu lama.
Dan tulisan ini ingin mencoba mengingatkan sedikit, untuk hati-hati jangan tertipu oleh bualan perasaan kita sendiri yang ternyata malah akan menghancurkan masa depan sendiri.
SEKIAN
Tidurr !!!!!
Apa mama bilang dari tadi jangan terlalu banyak tidur siangnya, sekarang jadi ga bisa tidur kan. bisa- bisa telat besok sekolahnya.
Nanti shubuh jangan telat ya shubuhnya, bantuin mama buatin sarapan untuk adek-adek mu sekolah.
Oia, besok pagi sekalian beliin gorengan ke warung bu nur, mama udah pesen byk loh sm mereka.
Jangan gangguin adekmu kalo km ga bisa tidur, awas mama kunci lagi nanti di luar, tidur saja km di luar
KAMU udah cuci kaki kan!! gosok gigi nya sudah !!
“Ah teriakan-teriakan ini selaluku dengar setiap malam dulu iya dulu 9 tahun yang lalu ketika aku masih SD dan sekarang rasanya kangen dengan itu semua”
#mama
LOOCKED DOORS
By Gregory Smith
When I Approach a door and find that it is locked
or being slammed in my face
I do not stand there and pound upon it.
I step back
and examine the hinges, evaluate the frame,
and measure the keyhole.
There is no door that is locked forever;
however, it is up to us to find the portal of entry.
There are several choices:
Knock it down
Bang on it until they surrender begrudgingly
Beg, Cry, and plead for someone to help
Sit and wait for the day the door opens
Go build another door and leave it open for others to enter
I choose to build another door so all may enter!
PINTU YANG TERKUNCI
Ketika Aku mendekati pintu dan ternyata terkunci
atau di banting tepat di depan wajahku,
Aku tidak akan berdiri terus di sana memukulinya.
Aku melangkah mundur
dan memeriksa setiap sisinya, mengevaluasi kerangkanya, dan mengukur lubang kuncinya.
Tidak ada pintu yang terkunci selamanya;
Bagaimanapun, bergantung kita untuk menemukan cara masuknya.
Ada beberapa cara:
Merobohkannya,
menendangnya keras hingga mereka meratap, menyerah,
memohon, menangis, meminta tolong orang lain.
Duduk menunggu hingga esok hari pintu itu terbuka.
Atau membangun pintu lain dan membiarkannya
terbuka agar orang lain bisa masuk.
Aku memilih cara terakhir, agar semua orang bisa masuk !